
NIA DINATA. Siapa yang tidak kenal dengan figur perempuan muda yang terkenal bertangan dingin dalam menyutradari banyak film ini? Karya-karya besutannya selalu menjadi bahan pembicaraan di mana-mana, termasuk di berbagai festival film Internasional. Ya, termasuk film Arisan! yang sempat menimbulkan kehebohan karena adegan ciuman antara pasangan homoseksual yang diperankan oleh Surya Saputra dan Tora Sudiro.
Perempuan kelahiran Jakarta, 4 Maret 1970 ini adalah salah satu Sutradara muda hebat di Indonesia yang telah menyutradari (bahkan sering pula memproduseri sendiri) film-film dengan issue yang tidak biasa disertai dengan dialog-dialog yang cerdas.
Pada tahun 1995, usai lulus dari Elizabethtown College, Pennsylvania, jurusan Komunikasi Massa serta mengambil program khusus produksi film di New York University, Nia pulang ke Jakarta dan mulai mengerjakan berbagai proyek komersial untuk televisi. Tiga tahun setelahnya, Nia berhasil memenangkan penghargaan Gambar Terbaik dan Drama Terbaik dalam Festival Sinetron Indonesia untuk drama lepas yang berjudul Mencari Pelangi. Sejak saat itulah, perempuan dengan nama asli Nurkurniati Aisyah Dewi ini banyak menyutradarai berbagai iklan televisi dan klip musik.
Pada awal tahun 2000, Nia mendirikan perusahaan film independen Kalyana Shira Film yang menghasilkan banyak film-film yang fenomenal, termasuk film Ca Bau Kan yang berhasil menyabet berbagai penghargaan di Festival Internasional.
BUKAN PEREMPUAN BIASA
Karirnya di dunia layar lebar diawali film Ca Bau Kan. Sebetulnya ini semata berawal dari kenekatan, sebab sebelumnya Nia hanya berkutat dengan video klip dan film iklan. Suatu hari, oleh produsernya di Kalyana Shira Film, Avi, ia disodori novel karya Remy Sylado. Setelah dibaca, Nia jatuh cinta pada novel dengan seting cerita tahun 1930-an itu. Avi pun sependapat.
Ketika novel tersebut diangkat ke film layar lebar, Nia bertindak sebagai penulis skenario sekaligus produser. Ia mengaku kesulitan menulis skenario. “Menulis skenario itu justru lebih susah karena bukan dari kita ceritanya, tapi dari novel,” ujar perempuan yang sudah kecanduan nikotin sejak usia 21 tahun ini. “Saya memang kepengin true ke novelnya, kalaupun ada yang ditambah, ceritanya memang persis novelnya,” lanjutnya.
Saat memproduksi Ca Bau Kan, Nia sedang hamil –- tapi itu bukan halangan baginya. Justru membuatnya lebih disiplin. Pada pemutaran perdana di berbagai tempat di Jakarta, Februari 2002, film tersebut diserbu kalangan tua dari etnis Tionghoa. Meski cukup berhasil menyedot penonton, Ca Bau Kan tak luput dari kritik. Tapi, Nia enteng saja menanggapinya. Kepada krunya yang sedang panik, ia bilang: “Kalau kita enggak mau menerima kritik pedas selama kita berkarya, ya sudah di rumah saja, nggak usah bikin sesuatu.” Dan Nia berpegang pada prinsip: “Dalam hidup kita, kalau mau buat sesuatu, harus tahan mental.”
Dengan Ca Bau Kan, Nia meraih penghargaan untuk Sutradara Pendatang Baru Berbakat Terbaik di Festival Film Asia Pasifik, Seoul, Korea pada tahun 2002. Film ini juga mendapatkan predikat Sutradara Seni Terbaik di festival yang sama (FFA). Pada 2003 ”Ca Bau Kan” terpilih oleh Akademi Perfilman Ilmu Pengetahuan dan Budaya (Ampas) untuk diputar sebagai satu kandidat nominee film asing Ia tak lantas berpuas diri. Tahun 2002 Nia bersama Afi Shamara memproduksi film kedua mereka ”Biola tak Berdawai”. Di tahun 2003, Nia tampil lagi menyutradarai film ”Arisan!”. Film ini meraih banyak penghargaan dalam sejumlah festival film di Indonesia. Pada Festival Film Cinema Asia di Amsterdam (2004), juga penghargaan film terbaik. Tahun yang sama, film ini menjadi nominee Sutradara Pendatang Baru Tahunan dalam Festival Film Internasional Amerika Asia di New York. Kemudian dia mendapat penghargaan secara resmi pada Festival Film Internasional Vancouver Canada, Festival Film Gay dan Lesbian Internasional, dan sejumlah festival lainnya.
Pada Festival Film Indonesia (FFI) 2004, ”Arisan!” meraih kategori Film Terbaik, Penyunting Terbaik, Aktor Terbaik (Tora Sudiro), Aktor Pendukung Terbaik (Surya Saputra), Aktris Pendukung Terbaik. ‘Arisan!” telah diputar di lebih dari 50 festival film di dunia.
Pada Mei 2004, dalam rangka perayaan ke 20 Pons Sud Sinema, bersama Kementerian Urusan Luar Negeri Prancis dan Festival de Cannes, Nia diundang untuk bergabung dengan program sutradara muda Cannes. Di bulan Juni, Nia terpilih sebagai salah satu juri dalam festival film Prancis di Indonesia.
Di bulan April 2005, ia kembali memproduksi sebuah film roman berjudul ”Janji Joni” yang disutradarai Joko Anwar. Selain hasratnya dalam penyutradaraan, Nia juga memercayai potensi dari para pembuat film muda Indonesia lainnya. Dengan sebuah perusahaan produksi independen miliknya, Kalyana Shira Films Nia berkomitmen untuk mengembangkan naskah yang menarik dan menghasilkan film-film Indonesia yang lebih berkualitas.
”Janji Joni” telah memenangi sejumlah penghargaan. Contohnya Film Terbaik pada penghargaan film Indonesia MTV, penyuntingan terbaik di Festival Film Asia Pasifik. Dan juga disiarkan di banyak festival film seluruh dunia, seperti Festival Film Internasional Amerika-Asia, Festival Film Internasional Pusan, dan di Festival Film Internasional Tokyo.
Setelah berhasil merilis banyak film yang selalu diperhitungkan di kancah perfilman Indonesia, bahkan internasional, kini perempuan usia 39 tahun ini sedang sibuk mempersiapkan karya film terbarunya. Demi pembuatan film animasi pertamanya ini, Nia Dinata menggandeng ISW, sebuah perusahaan animasi dari Singapura yang sekalipun pemiliknya adalah warga Singapura, tapi digerakkan oleh animator dari Bandung dan Jogjakarta.
Film animasi tiga dimensi berjudul Meraih Mimpi ini disebut Nia Dinata sebagai karyanya untuk perempuan. Ini terlihat dari isi ceritanya yang berkisah tentang perjuangan perempuan yang harus bersaing dengan saudara-saudara lelakinya untuk mendapatkan pendidikan.
Sekalipun bukan buatan Hollywood, Nia Dinata mengatakan bahwa film yang kemungkinan besar akan didukung oleh Aming sebagai salah satu pengisi suaranya ini, tidak akan kalah berkualitas dengan film animasi buatan Hollywood. “Jujur, animasi yang saya bikin sekarang nggak kalah sama animasi dari Amerika. Bikinnya saja pakai 3D kayak ‘Madagascar,” katanya dengan optimis.
Sikapnya yang selalu optimis dan percaya dengan kemampuan dirinya sendiri adalah satu hal yang layak kita contoh. Ya. Perempuan manapun pasti bisa berhasil di dunia kerja yang dia geluti saat ini, asalkan dibarengi dengan kerja keras, kemauan yang kuat, rasa optimis dan percaya diri yang tinggi.
Bravo Nia Dinata!
Bravo Perempuan Indonesia!
(Lala-D’Girls)
Sumber:
www.kapanlagi.com
www.id.wikipedia.com
www.gramedia.com
www.detikhot.com
www.pdat.co.id











