Neni Indriati atau akrab dipanggil dengan Neni adalah perempuan muda yang memiliki cita-cita serta dedikasi setinggi langit untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan khususnya kaum perempuan dan telah ditempuhnya dengan bekerja sebagai relawan untuk beberapa daerah konflik seperti Aceh dan Sri Langka. Neni yang berkediaman di Oslo, Norwegia dan bekerja di Center of Human Rights University of Oslo. Tidak hanya itu, kini Neni juga sedang mencari beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang doctor (S3).
Sehari-harinya Neni juga merupakan seorang ibu rumah tangga dan istri dari seorang pria berkewarganegaraan Norwegia, sehingga mau tak mau, membuat dia juga harus menyesuaikan kultur dan budaya Indonesia dengan kultur kebudayaan suami tercintanya. Menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaannya yang sibuk memang kadang melelahkan buat seorang Neni tetapi prinsipnya bahwa hidup adalah perjuangan dan setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan membuatnya terus menatap hidup dengan optimis.
Berikut adalah hasil interview dengan Neni Indriati yang berhasil di ambil menggunakan fasilitas email oleh Obrolan Perempuan :
Biodata
- Nama Lengkap: Neni Indriati
- Nama Panggilan: Neni
- Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 28 Juni 1976
- Anak ke berapa dari berapa bersaudara: anak ke 2 dari 3 bersaudara
- Status : Istri dari seorang pria asli Norwegia yang berumur 4 tahun lebih tua dan berprofesi sebagai insinyur. Belum di karuniai anak.
- Hobby: Melukis, Menulis, Outdoor Activities (skiing, camping, sailing, biking, hiking), Berkebun, Travelling, Memasak, Membaca
- Pendidikan :
- Master of Arts in Development Studies, Major in Women, Gender, Development,Instituteof Social studies (ISS) the Hague, The Netherlands, 2003-2004 (Beasiswa STUNED Belanda)
- Bachelor of Law, Law Faculty, University of Indonesia, Depok Indonesia,1995-2000
- hort course on ‘Peace Research’ International Summer School, University of Oslo-Norway June-August 2007 (Beasiswa Norad-Norwegia)
8. Riwayat Pekerjaan :
- Bergelut di isu humanitarian, daerah konflik dan bencana.
- Pernah menjadi relawan di ISJ (Institut Sosial Jakarta) saat masih kuliah dan di YKAI (Yayasan Kesejahteraan anak Indonesia)
- Pernah bekerja di LBH APIK Jakarta sebagai staf dokumentasi dan memiliki ijin praktek pengacara, bergelut di isu anak dan perempuan, Aceh dan Sri Lanka, daerah konflik dan bencana tahun 2005-2007 buat UNICEF (Abuse-Exploitation and Trafficking-Child Protection Unit), UNDP (Access to Justice Assesment Team), IOM (Post-Conflict Community Reintegration Programme) dan UNV (United Nations Volunteer)- DRMU (Disaster Relief Monitoring Unit)- Komnas HAM Sri Lanka sebagai Human Rights Field Officer
- Pekerjaan sekarang di Norwegian Center for Human Rights, University of Oslo sebelumnya sebagai Senior Executive Officer di Indonesian Programme, kini sebagai Research Assistant
Lebih Jauh Tentang Neni
- Sejak kapan Anda menjadi relawan untuk perempuan seperti yang Anda lakukan sekarang ini? “Sejak duduk di bangku kuliah di FHUI (tahun 1998)”
- Apa yang membuat Anda tertarik untuk menjadi relawan? “bisa berbuat sesuatu yang berguna buat sesama, menantang dan menarik minat”
- Bagaimana plus minus pekerjaan yang digeluti? PLUS: “Bertemu orang2x baru dari berbagai kalangan, Mendapat banyak pelajaran baru dari perjumpaan dengan orang2x tadi (mulai dari korban konflik, pengungsi tsunami, anggota GAM, aparat pemerintah,militer, anak kecil, orang tua , pelajar, pemuka agama, pemuka adat dll), Mendapat kesempatan mengunjungi daerah2x terpencil yang unik dan indah seperti berkeliling Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Selatan, Aceh Barat dan pedalaman Sri Lanka karena” pekerjaan. MINUS: “Situasi konflik dan bencana menjadi tantangan karena keterbatasan sarana dan fasilitas, kondisi keamanan yang tidak stabil”.
- Pengalaman Unik selama bekerja:
Pernah diinterogasi dan dibentak-bentak oleh aparat di salah satu markas mereka di daerah konflik karena memotret lokasi markas, padahal keadaan waktu itu sunyi senyap dan tidak sadar berada di sebelah markas aparat. Sang komandan dan beberapa anak buah sedang duduk-duduk di pos jaga yang ada di balik pohon.
Saya juga pernah bertemu seorang nara sumber yang unik saat jadi peneliti menemani manajer tim asal Australia. Sang pejabat bersendawa tiada henti selama sesi interview tanpa mampu menjawab pertanyaan yang diajukan. Saya dan bos sempat merasa bingung bagaimana harus bereaksi, antara mencoba serius, bersikap profesional, menahan tawa, sedikit tersinggung karena bersendawa di depan orang lain dianggap tidak sopan, merasa heran atau bersimpati. Akhirnya, sesi interview selama 45 menit hanya diisi dengan kami mengajukan pertanyaan dan si nara sumber ber ‘hoek’…’hoek’… non-stop…. Setelah mencoba bertahan cukup lama dalam ruangan, kami pun ‘mengikhlaskan’ kehilangan nara sumber ini.
Pernah dianggap mata-mata saat mencari data di salah satu kantor polisi karena menanyakan hal yang dianggap sensitif
Harus mengungsi saat markas milisi di dekat tempat tinggal di bom dan tidur di kolong tempat tidur saat ledakan serta rentetan senapan terdengar dari jarak dekat, Nyaris menjadi korban bunuh diri di Habarana Road, untung sang supir terlambat 15 menit… bom meledak di jalur yang akan dilewati dan membunuh ratusan nyawa aparat, mengungsi di malam buta saat orang tak dikenal mencoba masuk kamar.
Bertemu dan berdiskusi dengan aparat di pagi hari dan bertemu pemberontak di sore hari…
Masuk ke hutan pedalaman dan menjadi satu2xnya perempuan dalam tim saat melakukan napak tilas ke lokasi konflik yang ditinggalkan penduduk selama 5 tahun lamanya.
Bertemu dengan ratusan survivor tsunami dan konflik yang mengajarkan banyak hal tentang arti ketabahan, kekuatan mental, semangat pantang menyerah dan kepasrahan pada Tuhan.
- Apa Tujuan Anda tetap menggeluti pekerjaan ini? “Karena saya ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan”
- Apakah pekerjaan ini didukung oleh keluarga? “Awalnya tidak karena dilihat sebagai anak perempuan satu-satunya, bekerja jauh dari keluarga di daerah konflik dan bencana tapi kini mereka mendukung saya.
- Anda tidak pernah terganggu dengan omongan usil perempuan-perempuan yang mengatakan bahwa pekerjaan Anda terlalu laki-laki, misalnya? “Saya berusaha untuk tidak menghiraukan ucapan-ucapan usil tersebut dan tetap menjadi diri sendiri serta berusaha untuk membuktikan dengan melakukan yang terbaik”.
- Ada keinginan untuk menjadi relawan di tempat lain? “Ya, di Afrika atau Amerika Latin”
- Apa harapan Anda di masa mendatang: “Bisa lebih fokus dan menguasai bidang yang digeluti serta membawa nama baik Indonesia di forum internasional sesuai kapasitas dengan kapasitas saya.”
- Bagaimanakah anda memandang perempuan sebagai mahluk sosial? ” Hidup sebagai perempuan di lingkungan budaya patriarkis berarti harus berjuang dua kali lebih keras untuk meraih impiannya. Sebagai pribadi, saya merasakan diskriminasi antara anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, kendala ini merupakan tantangan yang bisa menyemangati perempuan untuk terus maju dan tidak mudah menyerah.Perempuan sebenarnya adalah mahluk yang kuat dan memiliki banyak keistimewaan. Potensi perempuan lebih dari sekedar di kasur, dapur dan sumur. Sayangnya, feminisasi lapangan pekerjaan dan feminisasi jurusan studi masih terjadi. Ada bidang-bidang atau pekerjaan tertentu yang masih di ‘cap’ hanya untuk kaum lelaki atau untuk kaum perempuan seakan-akan pekerjaan dan jurusan studi memiliki kelamin.”
- Jadi, bagaimana Anda menyikapi perempuan sebagai Ibu Rumah Tangga dan Pekerja? ” Menjadi perempuan bekerja dan ibu rumah tangga adalah sebuah kehormatan dan sebuah pilihan. Ibu rumah tangga adalah peran mulia karena masa depan bangsa terletak di tangan perempuan, karenanya mendidik perempuan berarti mendidik calon generasi masa depan. Namun, jika si perempuan memilih untuk tidak menikah, tidak mempunyai anak dan memaksimalkan potensi diri lewat pekerjaannya, ini pun sebuah pilihan yang harus dihargai, bukan sebaliknya dicemooh atau dipinggirkan karena melawan ‘prototype’ tradisional peran perempuan yang harus menikah, melahirkan, mengurus anak-suami dll. Hidup penuh dengan pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi yang harus dijalani. Sebagai perempuan, konsekuensi dari sebuah pilihan hidup mungkin menjadi jauh lebih berat kala harus berbenturan dengan persoalan nilai-nilai tradisi, budaya, agama yang tak jarang masih memarjinalkan perempuan.”
Neni, Perempuan muda Indonesia yang tidak banyak bicara tapi melakukan banyak hal untuk kepentingan kaumnya. Dia meyakini kalau setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan sehingga kaum perempuan seperti Anda tak perlu ragu untuk melangkah menjadi yang terbaik. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Well, Neni. Anda memang seorang Kartini masa kini!
(Ria & Lala - D’Girls)











