colon cleaning

Rubrik : Menikah, Apa Istimewahnya?

April 23rd, 2009

Aku mendapatkan email dari seorang teman, sebut saja dia Nina. Isinya bertanya Kenapa sih seseorang itu harus Menikah dan berkeluarga? Harus ya? Ada juga Seseorang mempertanyakannya Padaku beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang sebenarnya susah-susah gampang. Pertanyaan yang sebenarnya Aku juga gak bisa menjawab dengan verbal dan memberikan kepuasan kepada orang yang mempertanyakannya. Pertanyaan yang juga, beberapa tahun lalu…Aku pertanyakan pada diri sendiri

What’s so special about being married?

Sekali lagi temanku bertanya dengan mulai agak ngotot, Dia berkata

“kalo cuma urusan ngesex dan dan punya anak,. Gak mesti married dulu kan? Kalo cuma takut gak punya pasangan?…hey..kamu kan bisa punya pasangan tanpa harus menikah dan membuat ribet segala sesuatu yang berhubungan dengan pertukaran cairan dalam sebuah lembaga yang cuma bisa menafsirkan hubungan yang haram menjadi halal”

Kenapa sih Nikah segala, Ribet….Segalanya izin…izin sama pasangan, Segala mesti minta pendapat sama pasangan kalo mau ambil keputusan, Segala mesti bolehnya “cuma sama dia” padahal yang lebih tempting dan lebih oke masih bertebaran dan mereka juga masih doyannn sama kita!

Jadi kembali lagi ke pertanyaan semula…

What’s so damn special about being married?

Aku  menikah di umur yang pas. Tidak terlalu muda, tidak juga terlalu tua. 25 tahun. Saat itu aku sudah bekerja, dan menemukan pasangan yang juga sudah menghasilkan…dimana kemapanan dan kestabilan masih menjadi perbendaharaan kata yang kita raba dan kita cari apa artinya dalam kamus besar bahasa Indonesia.

Tidak ada sesuatu yang abadi, memang. Tidak juga dalam pernikahan. Jika pacaran saja mudah putus sambung…nikah juga bisa cerai bukan? Jadi apa alasannya mesti nikah segala? Belum Lagi biaya nikah jaman begini gak murah..ralat…nikah mungkin murah…tapi Mengundang orang dan sewa pelaminan serta sewa catering itu bener bener mahal! Belum lagi proses penyatuan dua buah keluarga, yang memiliki tradisi dan culture budaya sama aja masih mengalami gesekan, apalagi yang jelas jelas beda?

Aku mencoba untuk tetap tenang menanggapi segala cacian dan makian si teman ini. Separuh tersenyum…separuh lagi…memikirkan baik baik apa saja yang dia katakan. Geli geli lucu….Geli karena kok dia terlalu ngotot dan mempertanyakan pertanyaan itu.Lucu karena Aku yakin, kelak jika dia menemukan sosok lelaki yang bisa membuat debaran dijantungnya. dia akan berpikir untuk menghabiskan waktunya seumur hidup dengan pria itu, dalam ikatan pernikahan tentunya. Aku  menatap tajam  mata temanku  itu. Sambil berkata :

“Kalo Kamu udah bisa bertanya what’s so special about being married, boleh gak Aku tanya ke kamu dulu…have you already mastered in being single?”

Si Teman  mengernyitkan dahinya, menyilangkan kakinya…melepas lipatan tangannya, dan kembali bertanya…

”Maksudnya?”

“Ya….kalo kamu sooo busy on asking me what is so special about being married…berarti kamu bisa jawab donn..kalo aku tanya…what’s so special about being single?” Tanyaku

Pertanyaanku membuat si teman itu tersulut emosinya dan semakin berapi api…

Dia menjawab…

“Yess…single itu bebas….dengerin aku tuww…b-e-b-a-s!..Berkali-kali kamu bilang menyesal karena gak bisa ikutan acara acara anak anak..apalagi setiap bachelor party yang di pub dan berlangsung sampai pagi..kamu menyesal gak bisa dateng..karena apa ?? Karena gak boleh sama sang suami kan? Karena kamu udah punya anak kan? Yaa karena kamu nikah ..itu gampangnya!….menikah itu penjara Yess…..dan kamu hanya bisa bebas bergerak dalam suatu tempat yang bernama lembaga pemasyarakatan dalam bentuk perkawinan!”

Plok…plok…plok..plok!!! tepuk tangan dulu ah buat temenku  itu ;) Aku terkekeh kekeh.Dia menjawab dengan nada tinggi dan amat sangat esmosi.Aku tersenyum lagi, kembali menatap matanya….

“Sayang, single itu tidak selamanya bebas. Kamu tidak bisa mengartikan segala sesuatunya menjadi bebas jika kamu tidak punya seseorang untuk berbagi dan ingin memilikimu, menjadi sendiri bukan alasan kamu menjadi bebas karena kamu bisa leluasa melakukan apa saja. Bagaimana kamu bisa menjadi bebas sementara kamu tidak tau rasanya bersama dalam ritme hidup dengan seseorang? Kamu sendirian…sendirian itu bukan berarti bebas….bahkan kalau kamu punya pacar aja dan tidak menikah….kamu tidak akan bisa sebebas yang kamu mau….ya kan? Bedakan …bebas ..dengan status sendirimu…”

Jawabanku singkat aja…karena Aku  menanti argumentasi dia berikutnya.

Dia tertawa…


“Yess…Aku sendiri saat ini karena Aku memilih sendiri. Bukan berarti gak ada yang mau pacaran sama Aku! Catet ya!… Aku lagi capek punya cowok,”

Lalu Aku menjawab :

“Nahh…tuh kamu sendiri ya yang ngomong… Berarti bebas tidaknya seseorang bukan karena alasan single atau married! Tapi karena ketergantungan seseorang bersama kita atau sebaliknya…. Dan menjadi bebas atau tidak itu kan hak asasi sayang… Kamu boleh aja pengen merasa bebas walaupun dengan ada atau tidaknya seseorang yang bergantung dalam hidupmu, namun ada norma-norma yang akan menjadi tolak ukur kehidupan kamu selanjutnya….

Aku bisa aja bebas dateng ke acara bachelor party-nya Uta di Dragonfly dan balik jam 3! Tapi sesudahnya Aku punya tanggung jawab moral atas pilihan itu ke Suami dan anak ku…apa pantas ya?Suamiku juga gak ngelarang kalo wiken Aku mau jalan-jalan sama temen-temen, Cuma Aku mikir pake otak dan gak pake dengkul…..bisa bisa anakku  gak kenal sama aku kalo gak pernah menghabiskan quality time sama si buah hati tercinta.

Bebas atau tidak itu pilihan sayang, sama dengan married atau single…pilihan juga….”

Aku jelasin ke si temen, kalau aku menghormati pilihan orang untuk menjadi single dengan berbagai alasan mereka. Toh bahagia atau tidaknya seseorang terletak di tangan dan hati mereka masing masing. Tolak ukur bahagia itu amat sangat berbeda, dan kita tidak bisa menyama ratakannya. Tapi kalau sekali lagi kamu bertanya dengan nada sinis ..what’s so special about being married….

Well, Darling…Bukan cuma sekedar perkara jadi haram ke halal. Bukan cuma sekedar perkara jadi berdua dari pada sendiri….Tapi masalah hidup bersama dengan orang yang membuat perbedaan dalam hidup. Orang yang memberikan cinta dan kebahagiaan..yang juga memberikan warna dengan pertengkaran, beda pendapat…dan perkelahian.

Married?

It’s not always being happy or being loved…
It sometimes makes you learning to be patient and understanding each other..
.

Dan berkali kali Aku bilang…

Menikah, adalah proses pembelajaran antara dua orang individu yang berlangsung seumur hidup…dimana mencintai bisa menjadi sesuatu yang amat sangat mudah, namun juga menjadi amat sangat sulit di saat yang bersamaan.

So why married?  wow…because I chose that way…

Being married is not always special, but, damn it’s extraordinary….dan hanya orang orang hebat saja yang mampu  bertahan dalam pernikahan.

So, why are you even bother, hm? :)

(Yessy - D’Girls)

Share and Enjoy:
  • del.icio.us
  • Digg
  • Facebook
  • TwitThis

6 Responses to “Rubrik : Menikah, Apa Istimewahnya?”

  1. Om AL Says:

    sepakat dengan penulis…
    mudah2an calon istriku segera membaca ini..dan segera memaksaku untuk mempercepat jadwal pernikahan kami…
    Aminnn

  2. Indah Says:

    Being married is not always special, but, damn it’s extraordinary….dan hanya orang orang hebat saja yang mampu bertahan dalam pernikahan.

    Setuju aahh ama kalimat di atas, walau gua mo nambahin dikits versi gua dengan bertahan dan bahagia, haha, karena banyak juga yang tetap bertahan dalam pernikahan hanya karena dia pasrah dan ngga bahagia namun ngga mau memutuskan tali pernikahan itu sendiri, naahh, kalo bertahan macam itu sih menurut gua ngga hebat, hihihi :D

    Btw, Yess, nice to see versi menulis lain dari elo, hehehe :)

  3. edratna Says:

    Sebetulnya menikah atau tidak menikah, itu pilihan masing-masing. Tapi, jika sudah ketemu yang cocok, yang tujuan hidupnya sesuai,kenapa tidak?

    Yang penting, menikah jangan dipaksakan karena teman2 yang lain sudah menikah, karena orang yang menikah berhak untuk bahagia, dan kebahagiaan ini hanya bisa ada melalui suatu perjuangan yang berasal dari kerjasama pasangan.

  4. nonearimomeahza Says:

    Jangan lupa….menikah itu ibadah,segala sesuatu yg didasari dengan niat ibadah, insyaAllah akan dijalani dengan ikhlas.
    Banyak lho pelajaran hidup yg didapat dari menikah….

  5. gessi Says:

    bagus sekali artikel nyaaaa..

  6. komariyah Says:

    mau menyampaikan pengalaman saja mengenai perkara menikah atau tetap single. Kebetulan saya baru tiga bulan menikah pada usia mapan yakni 42 tahun, sebelumnya saya bisa “bebas” bergerak dan berusaha. Kumpul dengan temen-temen sambil ngobrol di cafe atau resto. Namun semua itu tidak membuat saya berarti apa pun dalam kehidupan, selepas bekerja merasa ada yang “hilang”. Atas alasan itu semua saya memutuskan menikah dengan seseorang duda, beranak dua. Keputusan saya menikah ini bukan karena orang lain tapi didasari oleh kebutuhan dan kepatutan. Meski orang yang menikahi saya biasa-biasa saja secara tataran ekonomi, saya tetap bersabar. Namun ada pelajaran berharga yang harus kita amati dengan cermat bagi siapa pun yang akan menikah kenali betul calon pasangan kita.. agar kita bisa bersikap memahami dan hati-hati dengannya. Dan bila perlu jangan terlalu jauh perbedaan yang dimilik dengan calon pasangan kita alias sekufu.
    Saya berharap pembelajaran hidup diperoleh dalam biduk rumah tangga…

Leave a Reply

Filled Under: Gaya Hidup, Rubrik